Bintaro.net
Artikel
esDeeSongs
Kuliner
Iklan Baris
Produk
Kategori
Marketplace
Iklan Baris
Login
Cari
Daftar Artikel
Buat Artikel Baru
Judul Artikel
Sub Judul Artikel
Isi Artikel 1
Di era ketika musik bisa lahir dari satu laptop dan viral hanya dengan satu swipe TikTok, kesenian tradisional sering dianggap “kalah saing”. Namun, ada satu warisan budaya Betawi yang tetap bertahan dari masa ke masa :
Gambang Kromong
. Suara gambang yang renyah, gesekan tehyan yang sentimental, serta ritme kromong yang khas membuat musik ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga identitas. Pertanyaannya adalah Apakah Gambang Kromong masih diminati di zaman modern ini ? Jawabannya : Ya, tetapi dengan tantangan dan bentuk yang berbeda.
1. Sekilas Tentang Gambang Kromong
Gambang Kromong adalah seni musik Betawi yang lahir dari perpaduan budaya Tionghoa dan lokal. Nama “gambang” merujuk pada alat musik bilah kayu, sedangkan “kromong” adalah gong-gong kecil dari logam. Kesenian ini biasanya dimainkan untuk acara rakyat, pesta pernikahan, khitanan, hingga perayaan komunitas Betawi. Musiknya ceria, penuh improvisasi, dan sering membawa suasana cair antara pemain dan penonton.
2. Masihkah Diminati di Era Modern ?
Jawabannya: masih diminati, meski lingkupnya lebih spesifik.
a. Dilestarikan oleh komunitas Betawi
Di berbagai wilayah Betawi asli seperti Jakarta Timur, Condet, Kemayoran, hingga Bekasi, komunitas pelestari masih aktif memainkan Gambang Kromong dalam hajatan dan festival budaya.
b. Masuk kurikulum seni di sekolah & sanggar
Banyak sanggar budaya menjadikannya materi latihan untuk anak-anak dan remaja. SMP Negeri 153 Jakarta Selatan adalah salah satu sekolah di Jakarta yang memiliki ekskul di Bidang Seni Gambang Kromong
c. Menjadi materi riset & dokumentasi modern
YouTube, Instagram, hingga TikTok mulai menghadirkan dokumentasi dikemas secara modern.
d. Kolaborasi modern
Ada kolaborasi dengan : - musik pop Betawi, - musik kontemporer, - pertunjukan teater modern, - festival seni urban. Meskipun tidak se-viral musik modern, Gambang Kromong tetap memiliki komunitas kuat, pemirsa loyal, dan nilai budaya yang tidak tergantikan.
3. Tantangan Gambang Kromong di Zaman Modern
- Minim regenerasi pemain muda. Generasi digital cenderung memilih musik yang instan. - Biaya alat musik mahal, terutama tehyan, kongahyan, dan sukuhyan. - Kurangnya ruang tampil, lebih banyak acara memilih organ tunggal modern. - Arus globalisasi, membuat kesenian lokal harus berjuang lebih keras untuk tetap relevan. Namun justru karena tantangan itu, pelestarian Gambang Kromong menjadi lebih bermakna.
4. Falsafah dan Nilai Hidup dalam Gambang Kromong
Gambang Kromong bukan hanya sekadar musik; ia membawa falsafah hidup Betawi yang sarat nilai.
a. Falsafah “Guyub dan Kebersamaan”
Ansambel Gambang Kromong dimainkan banyak orang. Artinya kesenangan tercipta jika semua bekerja sama. Tidak ada pemain yang lebih penting dari yang lain. Semua suara menyatu, baru tercipta harmoni. Ini mencerminkan etos Betawi : “Hidup jangan sendirian, harus rukun sama orang.”
b. Perpaduan Budaya = Toleransi
Gambang Kromong lahir dari kawin budaya Betawi dan Tionghoa. Falsafahnya: “Keindahan muncul ketika perbedaan disatukan.” Musik ini mengajarkan bahwa identitas tidak harus kaku, ia bisa elastis, berbaur, dan saling menguatkan.
c. Falsafah Keseimbangan
Perpaduan suara gambang (kayu) dan kromong (logam) menggambarkan: - lembut vs keras - manusia vs alam - bumi vs langit Dalam hidup, semua butuh keseimbangan.
d. Kesenangan yang Sederhana
Musik Gambang Kromong selalu bernada ceria. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan harus mewah. Nilainya: “Senang itu nggak perlu mahal. Asal kumpul, ketawa, dan main musik, hidup sudah lengkap.”
e. Keteguhan Melestarikan Warisan
Gambang Kromong bertahan bukan karena dipaksa, tapi karena dicintai. Falsafah ini relevan bagi generasi muda : “Kalau kamu tidak menjaga identitasmu, suatu hari kamu akan kehilangan tempat berpijak.”
5. Peran Gambang Kromong di Masa Depan
Agar tetap diminati, Gambang Kromong perlu : - Masuk platform digital - Kolaborasi dengan musik modern - Dilatih kepada generasi muda sejak dini - Dipresentasikan dengan kemasan urban namun tetap menjaga esensi - Diberi ruang tampil dalam acara publik dan festival kota Dengan strategi ini, Gambang Kromong bukan hanya warisan, melainkan ikon kebanggaan budaya Indonesia. Gambang Kromong memang tidak “viral”, tetapi ia tetap hidup, tetap dicintai, dan tetap relevan. Kesenian ini bukan sekadar hiburan tradisional, melainkan cermin falsafah hidup Betawi: rukun, terbuka, ceria, dan penuh toleransi. Di tengah arus modern, Gambang Kromong mengingatkan kita bahwa identitas tidak boleh hilang. Teknologi boleh berubah cepat, tetapi budaya adalah akar yang membuat kita tetap berdiri tegak.
Isi Artikel 2
Isi Artikel 3
Status Tayang
Ya
Tidak
Simpan
Kembali