Bintaro.net
Artikel
esDeeSongs
Kuliner
Iklan Baris
Produk
Kategori
Marketplace
Iklan Baris
Login
Cari
Daftar Artikel
Buat Artikel Baru
Judul Artikel
Sub Judul Artikel
Isi Artikel 1
Komunikasi itu penting, gengs. Tanpa komunikasi, kita nggak bisa bilang “lagi OTW” padahal masih di kamar mandi. Nah, alat komunikasi juga berevolusi dari yang super jadul sampai yang kekinian banget. Yuk kita kulik perjalanan alat komunikasi yang panjangnya melebihi riwayat mantan kamu.
1. Zaman Purba: Komunikasi Modal Suara + Bahasa Tubuh
Dulu, sebelum ada WA, Telegram, atau DM Instagram, manusia cuma punya dua alat: Teriakan Bahasa tubuh ala pantomim Kalau ada bahaya, langsung teriak “Awoooooo!” Kalau mau ngajak makan, cukup nunjuk buah sambil mengangguk-angguk. Simple. Efisien. Kocak juga kalau dipikir-pikir.
2. Era Sinyal Asap: Versi Early Access dari Notifikasi
Beberapa suku di dunia pakai asap buat kirim pesan jarak jauh. Tiup api Bikin asap Asapnya dibentuk-bentuk Mirip kirim pesan, tapi versi “cloud” beneran. Sayangnya kalau angin ribut, ya pesannya otomatis terhapus permanen.
3. Kentongan: Notifikasi Darurat Versi Desa
Di Nusantara, nenek moyang kita sudah keren: KENTONGAN. Bunyi tong-tong-tong = bahaya Bunyi tong… tong… = info biasa Bunyi tok tok tok = mungkin tetangga manggil karena hutang Pokoknya ini adalah push notification paling OG di Indonesia.
4. Merpati Pos: GoSend Versi Berbulu
Bangsa-bangsa zaman dulu pakai burung merpati buat antar surat. Kelebihan: Hemat baterai Nggak kena macet Auto pulang sendiri Kekurangan: Kalau burungnya naksir burung lain di jalan, pesan kamu bisa pending lama.
5. Surat & Prangko: Era “Chatting Tertunda”
Setelah kertas makin modern, orang mulai kirim surat. Surat ini sederhananya kayak chatting, tapi: nunggu balesan bisa seminggu, kalau hujan, alamat luntur, prangko ilang = drama. Tapi ada romantisnya. Surat cinta zaman itu bikin orang baper akut.
6. Telegraf & Morse: Tit Tit Tit, Pesan Masuk!
Lanjut ke zaman modern awal. Telegraf diciptakan dan suara “tit-tit” ini jadi nada dering pertama di dunia. Kalimat “Aku kangen kamu” diterjemahin jadi: .- -.- ..- / -.- .- -. --. . -. / -.- .- -- ..- Ribet? Iya. Tapi zaman itu keren banget.
7. Telepon Kabel: Halo, Kamu di Mana?
Saat telepon ditemukan, dunia berubah. Sekarang orang bisa ngobrol jarak jauh tanpa teriak kayak orang stress. Tapi kendalanya: cuma bisa di rumah, kabelnya ribet, kalau tetangga pakai telepon umum, kamu harus sabar nunggu.
8. Pager (Beep-Beep): Awal Mula “Chat Singkat”
Tahun 90-an, pager hits banget. Bunyinya cuma beep, tapi anak 90-an merasa paling high-tech. Kalau mau bilang “lagi dimana?”, kamu harus kirim kode angka dulu. Ribet tapi keren.
9. HP Jadul: Era Snake & SMS 160 Karakter
HP jadul masuk, semuanya berubah TOTAL. Bisa SMS Bisa telepon Bisa main Snake sambil nunggu gebetan bales SMS cuma 160 karakter. Itu sebabnya kata-kata jadi dipotong: “sy sdng otw” — padahal masih gosok gigi.
10. Smartphone: Chatting, Video Call, Sticker Gemoy
Lalu lahirlah smartphone. Sekarang komunikasi level dewa: Chat instan Video call Voice note 10 menit Sticker nangis, ngamuk, salting Kalo dulu butuh burung merpati, sekarang cukup sinyal 4G dan kuota 2GB.
11. Era AI & Metaverse: Ngobrol Sama Robot? Udah Biasa!
Masa kini adalah masa paling liar. Bisa ngobrol sama AI Bisa meeting di metaverse Bisa kirim pesan via jam tangan Bisa kirim emoji via kacamata AR Komunikasi makin gampang… tapi ghosting tetap ada. Teknologinya maju, manusianya tetap mysterious. Kesimpulan : Dari “Awooo!” ke “ChatGPT, Tolong Buatin Artikel” Perjalanan alat komunikasi itu gila banget. Dulu: teriak ke gunung bikin asap kentongan Sekarang: video call 4K voice note sambil rebahan chat AI buat bikin naskah, skripsi, puisi, sampai kode. Teknologinya berubah. Gaya hidup berubah. Tapi satu hal nggak berubah yaitu Manusia selalu butuh terhubung. Bahkan kalau cuma buat bilang “lagi OTW” padahal enggak.”
Isi Artikel 2
Isi Artikel 3
Status Tayang
Ya
Tidak
Simpan
Kembali